Surat Dari Member TLC

Author: Evi Puspa Facebook – Beda Tour Guide dan Tour Leader

A journey of a thousand miles begins with a single step

Banyak komen ke inbox-ku terkait pertemuan TLC ( Tour Leader Club ) Indonesia yang akan berlangsung di Bali, seperti ” saya traveller pemula, ikut mantau aja ya mbak”.

Ada lagi yang berharap ” saya baru tour guide Indonesia ingin go international, gimana caranya upgrade diri ?”.

Teman lain meng-inbox dan bertanya ” bedanya tour guide dan tour leader apa ya mbak ?”.
Serta belasan pertanyaan lain.

Aku senang dengan antusiasme tersebut dan menjawab sekaligus disini ya.

Jika aku ikut tawaran trip yang sudah diatur segalanya oleh tour agent, mulai tiket, transportasi, akomodasi, aku bisa disebut turis. Paling enak emang jadi turis, tinggal bayar, duduk, dan menikmati perjalanan. Mau lokal atau mancanegara tetep aja disebut turis.

Jika aku sudah jadi ketua rombongan sebuah trip, tapi cuma ngatur perjalanan preserta KETIKA TRIP BERLANGSUNG aku boleh disebut tour guide.

Ketika aku mulai merancanakan sebuah trip dalam atau luar negeri dari nol, mulai mencari destinasi, bikin dealing transportasi, akomodasi, termasuk ijin-ijin, asuransi, menyiapkan ittenary serta budgeting ( ini yg rada susah) suatu trip, aku bisa dipanggil Tour leader.

Trip terbagi menjadi beberapa,
Biasanya untuk pemula lebih memilih destinasi mainstream. Destinasi yang umum dan sangat terkenal seperti Borobudur atau Menara Eiffel.

Jika hal tersebut sudah dilewati traveller mulai melirik anti meanstream destinasi. Ini rada unik karena pilihan bisa ke tempat-tempat yang tidak menjadi tujuan trip favorit, seperti Erwin Aprianto dan Christina Peri yang baru-baru ini ke Iran.
Untuk traveller pemula mungkin rada aneh melihat destinasi pilihan mereka tetapi itulah anti meanstream !

Ada juga yang menyukai trip ekstrim seperti temanku Pak De Wibowo Bowo yang mendaki gunung Himalaya berbulan-bulan seorang diri dan menyelesaikan trans Siberia ke Jakarta tanpa menggunakan pesawat terbang atau Anis Anet Setiawati perempuan muda yang gemar ke Mt Everest minimal dua kali setahun
Atau teman travellerku yang kluar masuk hutan Borneo bercengkerama dengan alam semesta tinggal dirumah penduduk asli, mandipun di sungai. Asiiik..

Ada pula trip sendirian yang menjadi pilihan banyak traveller karena tak perlu diskusi ke siapapun untuk memutuskan trip yang akan dipilihnya. Sesuka-suka gue deh. Ini disebut Solo Traveller. Francisca Kurniawan atau Rian Mega lebih menyukai Solo Traveller.

Menjadi solo traveller gampang-gampang susah, tetapi kini sedang marak dan aku salut melihat beberapa temanku beragam usia berkeliling sendirian nenteng ransel.

Bagi traveller, usia just number. We age not by years, but by stories.
Hampir tak ada yang pernah menanyakan usia seseorang didalam komunitas traveller karena setiap bertemu teman baru di suatu perjalanan yang ditanya adalah:
Berasal dari mana ?
Mau kemana ?
Sudah pernah kesini atau kesitu ?
Jika pernah, gimana cara kamu kesana ?
Kata terakhir adalah safe trip buddy !
Belum pernah tu ditanyain”umur berapa?”

Semakin sering seseorang melakukan trip biasanya malah risih jika dikatakan mahir karena dia tau betul jika ahli di suatu kota atau negara belum tentu ahli di kota atau negara lain.

Aku lebih menyukai disebut Newbie Traveller karena setiap traveller pasti mencari destinasi baru, mempelajari tujuan trip dengan seksama dan hunting tiket error.
Memang sih, traveller yang punya jam terbang tinggi punya cara khusus untuk travelling dengan cara asyik.
Klo nemu traveller dengan jam terbang tinggi, mintain trik2 travelling gih..

Pelancong juga terbagi minatnya, ada yang spesialis laut dan pantai, ada yang gunung tok, landscape alam natural, budaya, sunrise, sunset, kuliner, museum bahkan pemburu permainan ekstrim atau paduan dari semua itu.

Impian seorang traveller adalah pernah melakukan solo traveller. Tentu saja ga mudah untuk melakukan itu karena ada banyak kendala, seperti kekhawatiran keluarga, dan kudu betah sendirian berkutat dengan tujuan tripnya.

Aku pernah tersesat pulang dari Twelve Apostles di Victoria, kiri kanan hutan, ga ketemu seorangpun, pengen treak sih tapi itu resiko ku sendiri toh. Mau nangis sampe njungkir ga nyelesaikan masalah, kudu tenang dan tetap fokus hingga akhirnya nemu jalan umum lagi. Untung siang…

Inga… inga…Pemilihan waktu dan perkiraan lama perjalanan menuju suatu tempat sangat penting bagi Solo Traveller.

Impian lainnya adalah menjadi Tour Leader, tentu saja ini perlu kecermatan membuat ittenary dan budgeting, mempunyai jiwa leadership kuat serta tegas, memahami pertolongan pertama jika ada peserta sakit.

Ada seorang temanku TL yang terpaksa meninggalkan dua orang pesertanya di Paris karena terlambat 1 jam dari waktu yang ditentukan.
Lebih baik meninggalkan 2 orang tidak disiplin atau 17 orang lainnya terlantar terbang balik ke negara asal.
Berani tegas seperti itu ga ? Klo ga berani, lupakan impianmu hihihi..

Traveller,
usulku pilihlah destinasi yang sesuai hati dan jiwamu, maka trip mu akan lebih bermakna.

Remember,
Happiness is a way of travelling not a final destination – Robert Holden.

 

Iklan