Nusa Tenggara Timur

Tujuh Rumah Adat Berbentuk Kerucut Milik Desa Waerebo – Flores (Day 4)


Ellyprachtig.blog – Pada hari ke-empat, jelajah lautan sudah usai. Kini saatnya kami melanjutkan perjalanan, yaitu menuju ke Desa Waerebo. Destinasi yang aku nanti-nanti.

Hari ke-4: Aku bersama rombongan yang sama, 12-orang peserta dan guide lokal yang sama pula.

Desa Waerebo, kampung adat tradisional, khas dan otentik terletak di Kabupataen Manggarai. Keberadaannya diatas ketinggian 1100 meter diatas permukaan laut dan ditengah keterbatasan akses yang harus ditempuh dengan berjalan kaki melalui hutan, membelah perbukitan selama 3 jam.

However, apapun perjuangannya, aku tidak menyerah begitu saja. Keinginanku untuk bisa melihat keindahan pesona desa Waerebo sudah sangat tekad, sudah dari awal-awal.

Sebelum memasuki pintu garbang, ada seorang Bapak yang mendagangkan tongkat kayu seharga Rp. 10.000. Tongkat ini sangat bermanfaat selama perjalanan treking. Sangat membantu. Rasa capek akan lebih berkurang dibandingkan tanpa makai tongkat. Jika tidak mau beli tongkat kayu, dalam perjalanan bisa cari kayu-kayu ranting yang bisa di jadikan tongkat.

Hal Transportasi.

Tidak ada transportasi masuk ke dalam desa. Oleh sebab itu, bus mengantar kami di pangkalan ojek. Dan si Tukang ojek lah  yang akan membawa kami ke Pos I (Was Loba), begitu sebutan ini biasa dipakai.

Dari pangkalan ojek menuju Pos I akan memakan waktu lebih kurang 15 menitan naik ojek. Setiba di Pos I, barulah kami memulai treking.

Untuk menuju desa, terdapat 3 pos-pos. Foto dibawah ini adalah foto sewaktu kami tiba di Pos I, disana berdiri tegak sebuah papan yang berisi pesan dari desa Waerebo. Bahagia enggak kepalang, aku bisa menginjakkan kakiku diatas tanah Desa Waerebo, di Pos I ini. Yang artinya, impianku treking menjenguk kampung Waerebo menjadi kenyataan. ^_^

Memaang benar, perjalanan menuju desa Waerebo akan mengalami penuh perjuangan, kita akan di tuntut untuk mendaki bukit, melalui hutan lebat dijalan setapak yang hanya di kelilingi hutan belantara dan jurang curam. Apalagi di tambah hujan rinti-rintik, kabut. Yang perjalanan seharusnya memakan waktu 3 jam, bisa memakan waktu 4 jam, apalagi bagi yang belum pernah melakukan treking masuk hutan. Namun, kicauan merdu burung-burung selama dalam perjalanan akan menenangkan hati.

Ternyata, perjalanan kami memakan waktu lebih dari 3 jam. Karena kami lebih banyak berhenti beristirahat dikala kami kecapekan. Kami semua tetap setia menunggu dan sabar jika salah satu rombongan ada yang cepat capek, dan langsung mau istirahat.

Dari perjuangan itu, akhirnya kami tiba di Pos 2. Yang artinya, perjalanan menuju Pos 3 (pos terakhir) segera nampak.

“Badai pasti berlalu”, begitu pepatah selalu ada dalam benakku.

Setelah melalui lembah hutan lebih dari 3 jam, kami pun akhirnya tiba di Pos 3. Begitu parah kah perjalanan waktu itu? Sehingga aku menyebutnya “Badai pasti berlalu”? ;-). Ini karena enggak sabarnya aku ingin segera tiba di kampung ini, maka perjalanan itu aku namai “badai” ;-).

Setiba kami tiba di Pos 3, disini Abang Eman memberikan pesan pada kami, pesan sebelum kami memasuki rumah adat.

Memukul kentongan, adalah tradisi pengunjung sebelum memasuki rumah adat Desa Waerebo. Dengan suara kentongan ini, menandakan bahwa warga akan segera kedatangan tamu.

“Selamat sore, Ibu”, suara nyaring terdengarku. Suara berasal dari salah satu rumah warga. Tiba-tiba seorang wanita setengah baya mengeluarkan kepalanya lewat jendela kecil. Ia menyapakau dengan sangat ramah yang dibarengi dengan senyuman sahaja. Tidak salah dugaanku, ia seorang warga yang tinggal di rumah ini.

Masyarakat Waerebo yang masih taat menjalani adat-istiadatnya, menghormati leluhur serta hidup harmonis dengan hutan disekelilingnya.

Sekelumit alkisah nenek moyang Waerebo yang bernama Empo Maro berasal dari Minangkabau, Sumatra. Empo Maro, setelah capek berpindah dari satu kampung ke kampung lain, akhirnya menetap di Waerebo hingga menurunkan keturunannya sampai saat ini.

ARSITEKTUR TRADISIONAL WAEREBO 

Mbaru Niang, Rumah Adat Waerebo

Waerebo merupakan satu-satunya kampung adat di Manggarai yang masih mempertahankan bentuk rumah tradisional Manggarai yang disebut Mbaru Niang., “Mbaru” berarti rumah, “niang“, berarti tinggi dan bulat.

Mbaru niang memilik beda-beda dimensi. Dan perbedaan dimensi ini dipengaruhi oleh jumlah keluarga yang menempatinya. Niang Gendang ditempati oleh delapan keluarga, sementara keenam Niang Gena di tempati oleh 6 keluarga.

Tujuh bangunan Mbaru niang konon merupakan pencerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak-puncak gunung di sekeliling kampung Waerebo yang di percaya sebagai “para pelindung” kemakmuran kampung tersebut.

Di dalam bangunan Mbaru niang.

TENDA (Tingkat I), yaitu lantai paling bawah, disebut Tenda. Di dalam Tenda terdapat ruang berkumpul, ruang tungku dan rang makan, serta kamar-kamar tidur untuk 6-8 orang.

LUTUR, dimana kami duduk. Ini adalah ruang aktivitas tamu dan masyarakat.

Ketibaan kami disambut ramah oleh Bapak Ketua Adat, Alexander Ngadus. Di depan tiang bongkok inilah biasanya sang tua gendang (ketua adat) duduk di dalam setiap pertemuan masyarakat Waerebo.

Kami pengunjung, akan diberikan seperti wedangan atau pesan dari Bapak Alex, ketua Adat. Beliau menginformasikan sekilas adat-istiadat warga Desa Waerebo beserta silsilahnya. Setelah wedangan usai, bagi yang ingin berfoto dengan Bapak Alex, di persilahkan.

TIANG BONGKOK, tiang berdiri di belakang Bapak Alex, adalah titik (tiang) paling sakral dalam bangunan.

TUNGKU atau HAPO

Adalah perapian, untuk kegiatan memasak dan makan.

Pukul 1 malam, cobalah usahakan keluar rumah, dan nikmati keindahan Milky Way. Lewat gosip yang sudah menyebar, bawa lampu senter dan terangi bintang dengan lampu senter, akan menghasilkan foto yang aduhai. So, bagi kamu yang gemar fotografer, mungkin momen ini yang jangan sampai terlewatkan, jika kamu berada di kampung Waerebo.

COMPANG

Tujuh bangunan Mbaru niang berdiri di lahan mengelilingi lingkaran batu yang membentuk pelataran dengan sebutan compang.

COMPANG, sebuah batu bundar dimana aku bersandar. Compang sebagai titik pusat ketujuh rumah ini diyakini paling sakral. Ia berfungsi untuk tempat pemujaan dan penyembahan kepada Tuhan dan leluhur.

Jangan heran, wajah-wajah capek terlihat di foto ini. Perjalanan menuju desa ini memang penuh perjuangan. Lelah, wajah kusam tidak lagi kami hiraukan. Akhirnya, impianku tercapai bisa berkunjung ke desa ini.


Pagi hari sebelum sarapan pagi, aku singgah dari satu anak ke anak lain. Aku mencoba memulai percakapan dengan warga asli Desa Waerebo.

Di dalam desa ini, ada juga Taman Baca. Aku perhatikan, anak-anak disana selalu membawa buku-buku bacaan mereka setiap mereka bermain di taman. Diam-diam, aku ikut nguping percakapan mereka yang sedang bermain. Aku kaget, karena mereka menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Tanpa logat daerah.

Mereka memperkenalkan diri satu-persatu, begitu juga aku memperkenalkan diriku pada mereka. Pagi itu, suasana harmonis yang aku rasakan.

Aku ngobrol dengan salah seorang Bapak, warga desa *lupa namanya* yang tinggal di Mbaru niang:

Aku: “Bagaimana Pak, kalau mau belanja, berarti harus setiap hari turun kebawah, dengan jarak tempuh 3-4 jam”?
Bapak: “Kami sudah biasa Ibu, bagi kami untuk turun ke bawah cuma makan waktu 1,5 jam”.

Aku: “Oh, berapa sering berbelanja ke pasar, Bapak”?
Bapak: “Satu kali dalam 1 minggu Ibu, kami beli beras dan bahan-bahan makanan, sekalian stok untuk 1 minggu”.

Aku: “Terus, kalau anak-anak mau pergi sekolah bagaimana, Bapak”?
Bapak: “Desa Waerebo ada 2, yaitu satu di atas (Waerebo Atas), dan satunya lagi dibawah (Waerebo Bawah). Nah, yang di bawah itu untuk anak-anak yang tinggal, yang harus pergi ke sekolah. Setiap hari libur mereka pulang kampung, naik ke atas (Kampung Waerebo Atas). Ada juga beberapa warga Waerebo Atas yang harus ngajar di sekolah. Mereka juga tinggal di Waerebo Bawah, karena mereka harus kerja”, dan pulang kampung ke Waerebo Atas kalau sekolah libur.

Intinya, tidak semua masyarakat Waerebo tinggal di dalam tujuh banguna Mbaru niang ataupun kampung Waerebo. Sebagaian masyarakat tinggal di kampung Kombo, terutama karena mudah mendapat akses ke sarana dan fasilitas, seperti sekolah dan puskesmas.

Sebagian masyarakat Kampung Waerebo juga memiliki lahan pertanian garapan di Kombo dan Dintor. Dari kampung Kombo menuju kampung Waerebo hanya dapat di akses dengan berjalan kaki menelusuri lereng bukit selama 3-4 jam.

Pagi-pagi masih terlihat kabut di sekitar desa. Dan masih dingin.

MATA PENCAHARIAN

Mata pencarian utamanya berkebun. Mereka menanam kopi, cengkeh, dan umbi-umbian. Perempuan Waerebo, selain memasak, mengasuh anak, dan menenun, juga membantu suami di kebun.

Pengunjung yang datang ke Kampung Waerebo kian hari kian meningkat, ini dilihat berdasarkan catatan tertulis jumlah kunjungan wisatawan yang di dokumentasikan Masyarakat Waerebo.

Pada awalnya masyarakat kurang menerima adanya penghasilan tambahan melalui pariwisata. Tetapi seiring berjalannya waktu masyarakat mulai menyadari dampak positif dari kegiatan pariwisata.

Pada tanggal 27 Agustus 2012 UNESCO menganugerahi Waerebo sebagai peraih Award of Excellence pada Unesco Asia-Pacific. Awards for Cultural Heritage Conservation yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang warisan budaya.

SALAH SATU PESAN DARI MASYARAKAT ADAT:

“Gunakan jasa pemandu lokal, membeli produk masyarkat lokal, selain kunjungan anda akan lebih bernilai, anda juga turut membantu perekonomian masyarakat lokal”.

Maka itu aku membeli buku ini, buku Waerebo seharga Rp. 100.000. Buku sangat bermanfaat dengan isi yang jelas. Sebahagian informasi di dalamnya aku kutip untuk mengisi tambahan tulisan di Blog ku, selama perjalananku sewaktu berkunjung ke Desa Waerebo.

Dan juga aku beli kopi Luwak Waerebo, seharga Rp. 100.000. Ini hasil tani dari warga.

Gunakan jasa pemandu lokal, jika ingin menjelajahi trip ke Desa Waerebo, siapa tau nomor telefon Abang Emanuelle Bey berguna. Coba hubungi nomor beliau di +62(0)82175703678.

Tujuh rumah adat berbentuk keurcut, tampak begitu damai dan harmonis dengan alam sekitarnya. Akhirnya, aku bisa berkunjung dan melihat pesona rumah adat ini dengan mata kepalaku sendiri. ^_^

Cek postingan relevan di Tour Leader Club di Elly Prachtig.

Semoga bermanfaat!

 

Elly Prachtig

Ellyprachtig.blog

Sumber: Sebahagian dikutip dari buku Waerebo

Fotografer by: Joep Nelissen

 

 

Iklan

5 replies »

Leave a Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s