Berkunjung Ke Desa Adat Bali – Desa Penglipuran


Ellyprachtig.blog – Desa Penglipuran, keindahan desa menarik banyak traveller dari berbagai bangsa untuk berkunjung ke desa adat yang punya ciri khas tersendiri ini.

Bersama Pak Supir serta sewaan mobil berbiaya Rp. 600.000 per hari. Dengan mobil sewaan ini aku berkunjung ke salah satu desa adat yang namanya sering berdengung di telingaku. Tentu saja berita ini membuatku penasaran untuk datang berkunjung kemari.

Dengan mengunakan Google map online kami akhirnya tiba di desa ini, desa Penglipuran yang terletak di Jalan Rambutan, Gang III A1, Kabupaten Bangli, Bali-Indonesia. Lokasi ini sangat mudah di jangkau.

Sebelum kami memasuki desa wisata Penglipuran terlihat gerbang utama dan beberapa orang penjaga yang berdiri. Yang kemudian para penjaga pintu utama menyetop kendaraan yang kami tumpangi. Mereka menanyakanku apakah kami ingin masuk ke dalam Wisata Desa Penglipuran. Singkat cerita, si Bapak penjaga mengutip iuran masuk sebesar Rp. 15.000 buat WNI, dan Rp. 30.000 buat WNA.

Setiba di lapangan parkir Desa Penglipuran terlihat beberapa jejeran kendaraan dan bus-bus Pariwisata. Ramainya pengunjung yang ingin menyaksikan kebersihan dan ketradisian desa ini, pikirku.

Begitu aku melangkahkan kakiku ke dalam desa ini, mulutku ternganga dan tak henti-hentinya aku memuji keindahan dan kebersihan desa ini. Selama ini aku hanya mendengar, tapi kini aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri. Desa adat Bali, desa Penglipuran yang namanya begitu tersohor hingga ke seluruh pelosok bumi.

Rumah-rumah warga dengan ciri khas Bali.

Sejenak kakiku terhenti sewaktu melihat gang-gang yang diapit oleh perumahan warga. Aku pun penasaran. Aku beranikan perlahan-lahan melangkahkan kakiku memasuki gang kecil ini, ternyata di dalam ada warga yang membuka warung menjual suvenir, dan juga menjual berbagai jenis makanan ringan. Warga sangat ramah, terlihat dari sambutan mereka terhadap para pengunjung.

Tampak seorang Ibu, warga desa Penglipuran sedang membawa sajian untuk sembahyang. Sebelumnya, tentu saja aku minta izin pada si Ibu untuk di ambil gambar.

Di dalam Desa Penglipuran masih ada tempat dengan suasana bambu disekitar. Disana terdapat sebuah petunjuk tanda panah “Bambu Forest”, yang akan membawa kamu ke daerah bambu ini. Kabarnya, banyak pohon-pohon bambu ini karena mayoritas perumahan penduduk setempat di bangun dari bahan bambu.

Seperti yang kita ketahui, kalau keindahan alam Bali tidak akan pernah membosankan. Sepulang dari desa Penglipuran, aku minta izin pada Pak Supir agar stop di setiap tempat yang menarik, untuk mengambil gambar. Tidak lupa, aku mengambil gambar anak-anak yang sedang bermain layangan di persawahan.

Lambaian dari jauh dari kedua anak-anak ini, hati menjadi adem ketika menyaksikan lompatan yang di barengi kegirangan. Betapa pasrahnya lepas tawa mereka. Aku hanya cukup membalas lambaian mereka serta memenuhi permintaan mereka untuk di potret, sudah terlihat kebahagiaan mereka bukan kepalang. Kesimpulan yang ada dibenaku pada saat itu, “kebahagiaan yang tidak dapat di beli dengan uang”! 😉

Aku masih berkeliaran di daerah persawahan. Terlihat si Bapak Tani, mungkin warga setempat, yang sedang bekerja. Tentu saja, aku minta izin sebelum mengambil gambar beliau.

Begitulah situasi perjalananku sewaktu aku berkunjung ke sebuah desa adat Bali, di Desa Penglipuran.

Iklan

3 thoughts on “Berkunjung Ke Desa Adat Bali – Desa Penglipuran

  1. Ping-balik: Mengunjungi 3 Tempat Dalam 1 Hari – EP Loves Travel

Leave a Comments

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s